Jogjakarta

Tatkala kalian cerca, aku masih diam. Kalian bilang aku tak maju. Kalian bilang aku terbelakang. Kalian pun tega membandingkankudengan yang lain. Ada dari kalian tidak betah bersamaku. Kalian selalu merindukan yang lain. Sering kalian pulang, hanya karena kalian tidak betah.

Kalian bilang pendudukku tidak bisa mengendarai kendaraan bermotor. Sedangkan sadar maupun tidak kalian tebarkan asap di sini. Semakin lama semakin jarang aku melihat “AB” di jalananku sendiri. Identitasku di jalan sudah tidak begitu kentara seperti dulu

Kemudian kalian bilang aksen kami lucu, tidak masalah. Setidaknya selama kalian disini, coba belajar lah sedikit mengenai bahasa kami dan kebudayaan kami. Kami feodal, tapi kami bangga dengan budaya feodal tersebut. Cobalah belajar, semua ada makna, semua ada filosofinya, semua ada alasan dibaliknya di tiap sudut kota ini.

Betul memang, aku bukan tempat yang penuh hiburan seperti asalmu. Malamku tidak segemerlap malam asalmu. Mungkin hanya sedikit banyak punya budaya dan nuansa yang khas, itu pun kalian belum tentu suka. Kalian mungkin lebih suka gemerlap lampu didalam ruangan dengan lagu yang membisingkan telinga. Mungkin relief candi kelihatan membosankan dibandingkan tempat duduk bersama dan menikmati sebuah kopi yang mahal tapi belum tentu enak. Sudahkah kalian mencoba melihat sendratari Ramayana? Sudahkah kalian mencoba warung kopi tradisional yang menyajikan kopi-kopi lokal? Sudahkah kalian coba meresapi arti tiap sudut kota ini?

Sungguh tiap sudutku berdiri dengan arti. Coba lah kalian lebih teliti. Merapi-Tugu-Kraton-Pantai Selatan. Coba amati lebih jauh.

Tapi lihat!! Bukan berarti aku tidak memperhatikan kebutuhan kalian, kan? Jalananku kini pun mulai ramai dengan tempat yang kalian suka singgahi. Penduduk ku mulai merasakan hegemoni hedonisme yang kalian bawa. Asal itu menyenangkan bagi kalian, biarkan berjalan seperti ini. Dan kalian pun akan tahu, aku tau arti berbenah. Aku juga ingin tampil cantik seperti kota-kota yang kalian idamkan.

Sungguh aku bukan pamrih. Hanya saja, rindukan aku kelak, itu cukup. Kelak ketika kamu sukses di kota lain, ketika anak-anakmu sudah besar, sempatkanlah mengunjungiku. Ketika rasa benci dan caci maki itu berubah menjadi rindu, saat itulah aku akan bahagia. Hanya kerinduan yang membuatku bertahan hingga saat ini.

Doaku hanya satu buat kalian, semoga waktu kalian berkesan disini.


Salam hangat,

Kota Jogjakarta

*Selamat ulang tahun ke-254 Jogjakarta. Boston, Kentucky, New York, Los Angeles, Toronto, Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Balikpapan, dsb pernah saya kunjungi. Tetap Jogja kota yang paling saya rindukan kelak.

Advertisement