Mengkritisi Lembaga-Lembaga Bretton Woods:

Menuju Globalisasi yang Manusiawi

Alvin Adisasmita

dan

Aulia Rachman Alfahmy

 

“Globalisasi tampaknya kian memerbesar tingkat kemiskinan dan ketimpangan… Biaya-biaya untuk penyesuaian demi keterbukaan yang lebih besar ditanggung sepenuhnya oleh kaum miskin, berapa pun lamanya waktu penyesuaian itu berlangsung.”

-World Bank, The simultaneous Evolution of Growth an Inequality, 1999

Latar Belakang

Globalisasi dalam beberapa tahun belakangan ini menjadi isu hangat untuk dibicarakan di berbagai kalangan. Bagaikan sebuah mantra, globalisasi dianggap sebagai jalan keluar instan yang dipercaya mampu meningkatkan kesejahteraan seluruh manusia. Globalisasi seakan sebuah aksioma di mana eksistensinya menjadi tidak perlu diperdebatkan lagi.

Lembaga-lembaga internasional berada di balik pergerakan global tersebut. Mereka sebagai penganut aliran neo-liberal, percaya bahwa adanya globalisasi akan secara masif mendorong pertumbuhan ekonomi di semua negara. Pada dasarnya, globalisasi memang suatu hal yang tidak dapat dihindari atau bahkan dihilangkan. Globalisasi dapat memberikan keleluasaan bagi arus barang dan jasa secara kompetitif. Hal ini tentunya akan membuahkan mekanisme ekonomi yang efisien. Semua ini berujung pada peningkatan kesejahteraan secara luas. Inilah esensi dari sebuah globalisasi, di mana dalam dataran idealita globalisasi justru hal yang baik dan dibutuhkan dalam evolusi peradaban manusia.

Oleh karena itu, para pemuka ekonomi dunia menggagas pembentukan beberapa organisasi internasional dalam rangka mengakomodasi jalannya globalisasi. IMF dan World Bank menjadi produk-produk pertama dalam misi ini. Disusul kemudian WTO yang merupakan bentukan dari GATT tahun 1995. Adanya Lembaga-lembaga tersebut dianggap menjadi sebuah jawaban yang tepat dalam rangka mensejahterakan kehidupan masyarakat dunia di tengah era globalisasi.

Namun, dalam tataran empiris tidaklah demikian adanya. Fakta menunjukan bahwa di tengah meningkatnya rata-rata pendapatan masyarakat dunia dari tahun 1990-2000 sebesar 2,5% justru terjadi penambahan orang miskin sebanyak 100 juta jiwa (Stiglitz, 2002:6). Hal lain perlu diperhatikan adalah pinjaman sebesar 1000 milyar dolar yang diberikan oleh IMF dan World Bank sejak tahun 1960-an telah terbukti gagal dalam mencapai tujuan awalnya. Belum lagi masalah kebijakan perdagangan dilakukan oleh Amerika secara kontroversial, di mana WTO yang notabene sebagai penjamin terciptanya perdagangan yang adil, tidak mampu berbuat apa-apa atas kehendak negara adikuasa tersebut. Hal ini sekali lagi membuktikan adanya kesalahan dalam pengelolaan globalisasi.

Nampaknya ada sebuah anomali dalam perjalanan globalisasi hingga saat ini. Globalisasi yang dikendarai oleh negara-negara maju melalui lembaga internasionalnya justru menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Terus meningkatnya ketimpangan merupakan bukti nyata gagalnya lembaga-lembaga tersebut menjalankan fungsinya sebagai sebuah lembaga publik internasional. Globalisasi yang diidamkan pun turut sirna seiring dengan kemiskinan yang merajalela.

Benarkah lembaga-lembaga tersebut dibutuhkan masyarakat dunia? Bagaimana cara agar globalisasi berjalan pada jalur yang tepat di bawah kendali lembaga-lembaga tersebut? Read the rest of this entry »

Yogyakarta, 14 Oktober 2009

Once rocked by an embezzlement scandal, where a top executive allegedly skimmed hundreds of millions of dollars worth of bank assets into a personal account, yet it didn’t prevent them from having another one. This time the effect is bigger, in the sense of who is indicated to be involved. Boediono and Sri Mulyani, two biggest name that could provide how severe Century Bank’s problem. Nonetheless, there were concerns last year that the country might need assistance from the International Monetary Fund (IMF) to stabilize its complex and loosely regulated banking system. Century Bank represents merger of three smaller banks (i.e. Bank Danpac, Bank Pikko and Bank CIC) whose balance sheets were combined and re-opened under a new banner in 2005.


It all begins at 13 November 2008 when Century Bank failed to made bank clearance because a technical mistake—late prefund depositing (table 1). Therefore, Indonesia Stock Exchange (BEI) suspended Bank Century’s stock activities for one day. At the next day, Century is available to make any bank clearance again. All offices and branch reopened and operated as usual. Meanwhile, Century’s stocks are unsuspended. November 16th 2008, PT Century Mega Investindo and First Gulf Asia Holdings Ltd as the shareholder of PT Bank Century Tbk signed the Letter of Intent (LoI) to acquisated almost 70% stock issued by Century Bank. Four days later, the Financial Sector Stabilizer Committee (KSSK) which consist Central Bank (BI), Deposit Insurance Corporation (LPS), the Capital Market and Non-Bank Financial Institution Supervisory Board (Bapepam-LK), to decide where Century’s needs a bailout or not. At the second day of the meeting, KSSK decided to declare Bank Century as insolvent. Yet it is unclear either there is a political motivation or not within the decision until this moment. Government will take over Bank Century through the State Deposit Insurance Corporation (LPS). November 23rd, the first injection due the bailout program was made. It cost Rp 632 billion from the LPS fund. Sunday 26 November 2008, Robert Tantular the top executive who allegedly skimmed hundreds of millions of dollars worth of bank assets into a personal account was arrested. Early December, LPS made a second injection about 2.201 Trillion to cover Bank Century’s liquidity needs until Des 31th. In the middle of the month, 18 December 2009, Perppu JPSK was rejected by the house (DPR), though government claimed that the official letter from the head of house wasn’t clear whether it is a rejection or not. This event thus became one of the polemics until now. 3 February 2009, LPS made a third injection because Bank Century’s Capital Adequacy Ratio (CAR) is below 10%. LPS reinjected about Rp 1.55 Trillion. Read the rest of this entry »

Each of them score 53 goals in all competitions in the 2010/2011 season. While Ronaldo sets new La Liga record with 40 goals, Messi lead Barcelona win its 4th European Cup trophy. Then who is better? Ronaldo, or Messi? Read the rest of this entry »

Here I am, spontaneously typing, ready to have any banter upcoming from now on. You, yes you, all of you! Those who always criticize every single government act, please step up. Read carefully…
Read the rest of this entry »

Empty Room

Rasanya seperti selesai mengemas barang, selesai mengosongkan rumah, dan sekarang berada di depan mobil siap-siap untuk pergi. Keadaan dimana kamu melihat pintu rumah tersebut mungkin untuk terakhir kali, dan siap-siap mengucapkan kata-kata terakhir, kata-kata perpisahan. Emosional.

Ya, emosional. Hingga detik tersebut kamu baru tersadar, dan tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa ternyata rumah itu terlalu berarti.

Read the rest of this entry »

... di seberang

Benarkah besok hari ibu?

Apakah sah sudah saya mendengar suara seorang wanita di seberang sana? Bagaimana kalau salah satu di antara kita suaranya kemudian terbata-bata? Bisa pipi tetap kering setelah percakapan disudahi? Read the rest of this entry »

Love and Money

Mungkin ada yang bertanya-tanya mengenai posting “Investing on Relationship” khususnya balasan surat JP Morgan. Ini yang dimaksud Jonka, semoga kalian paham. Sebelumnya, no offense.

Happy Reading! :)

Click on title to read. Or click here >>>>>>>>> Read the rest of this entry »

Jogjakarta

Read the rest of this entry »

Jonka, muda dan ambisius. Salah satu hal yang menarik di dunia ini adalah segala hal berkaitan dengan investasi. Kira-kira hampir setara dengan kedudukan sepakbola dalam kehidupannya.

Menurut Jonka, investasi bisa diaplikasikan ke apa saja, termasuk hubungan pria-wanita. Hal-hal yang terkait pun persis: rencana jangka investasi, risk preference, return dan risk, diversifikasi resiko, dsb. Jonka bukannya sok tau dan tidak berangkat dari nol. Terinspirasi dari surat JP Morgan yang intinya: wanita adalah aset terdepresiasi, sedangkan pria adalah aset yang terapresiasi; Jonka membangun teorinya sendiri mengenai hubungan pria-wanita sebagai investasi.

Love relationship = Investment… Read the rest of this entry »


Adalah sebuah ide yang memanusiakan manusia… Read the rest of this entry »

” __________________________  “, begitu pesan singkat dalam otak.


Beberapa bulan terakhir otak sedang keruh, tidak berinspirasi, selalu berpikir tidak jauh dari selangkangan. Begitu banyak draft, tak ada yang berani diorbitkan sebagai new blog post. “Terlalu dangkal, kurang menggigit, tidak aktual”, kata si otak kosong. Ah entahlah, writers block menghampiri tidak hanya di skripsi ternyata. Babi.

bertahanlah sekejap, aku akan sirna, jadi bertahanlah dan jangan kamu sirna sebelum masaku!

"Fuuh" (Courtesy: Wisnu Pranata Adhi)

engkau bukanlah temanku malam ini.
Malam ini temanku adalah Marlboro sepuluh batang.
Malam ini bukanlah malam bersama A Mild seperti biasanya
tapi kamu bisa beradaptasi kan?
tolong bercengkerama lah dengan Marlboro. Dia jarang bertemu dengan kamu.
tapi tolong akrablah, walaupun hanya untuk malam ini saja Read the rest of this entry »
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.